HIDAYAH YANG MENGGETARKAN HATI

Alhamdulillah saat ini kesibukan ana sudah berangsur mereda seiring dengan kelulusan ana dalam sidang skripsi seminggu yang lalu :’) revisi juga sudah beres, mungkin masih sedikit direpotkan dengan kejar-kejaran dengan dosen penguji demi mendapatkan tanda tangan di lembar pengesahan laporan tugas akhir. Insya Allah setelah ini ana akan lebih aktif membagi artikel atau pengalaman di blog ini. 🙂

Saat ini di twitter sedang ramai perbincangan tentang #HijabStories on Book! yang dipelopori oleh akun @mariberhijab. Karena mempunyai pengalaman memulai menggunakan hijab yang (menurut ana) tidak boleh dilupakan, maka ana coba untuk ikut kirim cerita ana ketika memulai berjilbab. Sebelum dikirim ke @mariberhijab, ana berpikiran untuk share di blog ana terlebih dahulu :’)

 

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak kecil, aku tumbuh di keluarga Islam. Almarhum Ayah menjadi tokoh agama di kampung halaman, dan Ibu lulusan pondok pesantren yang menjadi guru agama Islam di sebuah SD dekat kampung halaman, Surabaya. Meski begitu, kedua orang tua tidak mewajibkan dengan tegas ke anak-anak perempuannya untuk mengenakan hijab sejak baligh. Oleh karena itu, hingga umur ke 21 aku masih belum melaksanakan kewajiban berhijab.

Setelah beberapa saat ketika bersekolah menengah kejuruan di kota Malang, sekitar tahun 2006, barulah aku mengerti bahwa berhijab, yang saat itu masih banyak yang menyebut dengan berjilbab, merupakan kewajiban Muslimah yang sudah baligh. Namun karena tidak mendapat doktrin sejak dini, ketika itu aku hanya sekedar tahu, dan tidak mengindahkannya (astaghfirullah).

Sampailah saat aku lulus SMK pada tahun 2008 dan mulai hijrah ke Jakarta untuk bekerja di perusahaan telekomunikasi, muncul keinginan untuk mengenakan hijab. Namun saat itu hanyalah muncul ‘rasa ingin’, tapi tidak segera melaksanakannya dengan alasan yang klise, ‘belum siap’. Saat itu aku bekerja dan melanjutkan kuliah, sehingga berpikiran bahwa jika berhijab akan menyulitkanku untuk beraktifitas dan akan mengenakan hijab ketika sudah lulus kuliah dan akan menikah.

Hingga dalam mimpi suatu malam, aku merasa dikejar-kejar semacam setan atau sesuatu yang membuat aku takut, kemudian aku berlari dan terus berlari, di belakang serasa ada api yang menyambar-nyambar siap untuk membakar. Hingga akhirnya aku berhenti di depan tumpukan kerudung, dan ada suara yang menyeru, ‘Ambillah kerudung itu, itu akan menyelamatkanmu’. Kemudian aku mengambil kerudung putih di hadapanku, dan aku pun lupa apa yang terjadi setelah itu. Pagi harinya tersentak ku ketika mengingat mimpi itu. Aku sudah merasakan tanda bahwa sudah saatnya untuk berhijab, namun lagi-lagi alasan klise ‘belum siap’ masih tak bergeming di dalam hati (astaghfirullah).

Akhirnya sampailah pada bulan Ramadhan tahun 2010. Saat itu aku lupa entah Ramadhan hari keberapa, yang jelas pada malam hari, posisi masih di kantor. Aku melaksanakan sholat tarawih secara munfarid sebanyak 8 rokaat, dan dilanjutkan membaca Al-Qur’an. Entah saat itu aku membaca surat apa dan ayat keberapa, tiba-tiba hati terasa bergetar. Keinginan untuk mengenakan hijab datang dengan teramat sangat kuat, hingga aku manangis dalam getaran hati saat terus membaca ayat suci-Nya. Sungguh getaran hati yang tak kan pernah terlupa. Setelah menyelesaikan membaca Al-Qura’an, aku langsung menuju ke meja untuk menghidupkan PC dan login Yahoo! Messanger. Saat itu yang pertama aku hubungi lewat chatting adalah kakak lelaki yang ada di Surabaya (saat itu Ayah sudah Almarhum sehingga kakak yang menjadi kepala keluarga). Aku mengutarakan maksud hati untuk mengenakan hijab. Dari kakak dan keluarga menyambut baik atas keputusan itu. Hingga esok harinya aku berbelanja kerudung dan baju panjang, dari keliling di Pasar Tanah Abang hingga belanja online. Dan akhirnya tiba saat tanggal 12 September 2010, 3 Syawal 1431 H, saya mengenakan hijab untuk pertama kalinya, hari dimana aku berangkat pulang ke kampung halaman, Surabaya tercinta, untuk libur lebaran (padahal saat itu lebaran sudah H+3). Dan sesampainya di rumah, sambutan suka cita ditunjukkan oleh keluarga atas perubahan yang aku lakukan. Alhamdulillah.

Selama September 2010 – Februari 2013, gaya berhijab ku masih kasual. Karena memang style dari sebelum berhijab adalah suka memakai kaos dan celana jins. Kerudung yang dipakai kerudung paris yang dililit praktis namun masih menutup dada. Dan bisa dibilang style berhijabku ‘itu-itu saja’ karena memang kurang suka yang ribet seperti yang ada di tutorial-tutorial cara berhijab. Sering terbaca status teman atau status yang dishare di socmed mengenai  cara berhijab yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan-Nya. Hingga pada akhir Februari 2013, saat itu aku sedang berpuasa untuk men-qodho’ puasa Ramadhan. Setelah sholat dhuhur, tiba-tiba keinginan untuk menyempurnakan hijab (lagi-lagi) datang begitu kuat. Ketika membayangkan seorang akhwat yang berhijab sempurna menutupi aurat nya, terasa damai dan sejuk dipandang. Akhirnya saat itu pula aku memutuskan untuk memperbaiki penampilan hijabku. Alhamdulillah saat itu ada tabungan yang bisa dibuat untuk berbelanja kerudung yang lebih tebal dan lebar, serta rok (sebelumnya tidak punya rok sama sekali) dan baju muslimah yang lebih panjang. Dan sampailah pada tanggal 1 Maret 2013, hari dimana aku pertama kalinya pakai rok dan melebarkan kerudung hingga menyembunyikan lekuk tubuh dan menutup dada dengan sempurna. Tak lupa kaos kaki untuk menutup kaki yang juga merupakan aurat wanita. Alhamdulillah dengan perubahan itu yang dirasakan adalah menjadi semakin anggun, rapi dan santun.

Sampailah pada perasaan setelah berhijab sesuai dengan syari’at adalah ketenangan dan kedamaian hati, jiwa dan raga secara kontinu. Rasanya ingin selalu menggapai ridho Allah dengan apa yang telah, sedang dan akan dilakukan. Benar seperti kalimat yang pernah kubaca, ketika kita melaksanakan satu kebaikan di jalan-Nya, maka kebaikan-kebaikan lainnya akan mengikutinya. Diri terasa lebih mudah untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian dan lebih percaya bahwa ketentuan Allah adalah yang paling baik di antara yang tebaik. Muncul visi untuk menjadi Bidadari yang dirindukan di Surga yang diikuti dengan misi untuk terus belajar dan belajar. Sulit rasanya mendeskripsikan apa yang dirasakan setelah berhijab syar’i, begitu banyak kebahagiaan yang dirasa dalam hati tanpa bisa diungkap. Sungguh nikmat yang dahsyat adalah ketika bisa melaksanakan perintah-Nya. Benar-benar janji Allah tak akan teringkari.

Tak terpungkiri saat memutuskan untuk berkerudung lebar, kadang ada rasa malu ketika berkumpul dengan teman-teman yang penampilannya stylish. Namun diri ini tak pernah lelah untuk mendoktrin diri sendiri, yaitu menempatkan Allah di atas segala-galanya. Ya, musuh terberat memang melawan diri sendiri. Semoga tetap istiqomah untuk menggapai ridho Illahi.

Pelajaran yang dapat dipetik, adalah hendaknya kita mengajarkan kewajiban dan perintah sebagai seorang Muslim kepada anak dan lingkungan kita sejak dini, sehingga keluarga kita terbangun sesuai syariat Islam. Sujud syukur kepada Allah Sang Penguasa Alam atas hidayah dan petunjuk-Nya hingga menyadarkanku selagi ada waktu. Saatnya untuk memanjatkan do’a agar hidayah-Nya selalu terlimpah pada kaum Muslim yang ada di muka bumi ini agar selalu bertaubat dan berada di jalan lurus-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s